I.
PENDAHULUAN
Berbicara tentang logika maka kita akan
berbicara bagaimana berfikir. Dalam buku-buku yang membahas logika maka akan
mendefinisikan logika sebagai ilmu dan kecakapan menalar, atau berfikir dengan
tepat.[1]
Saat manusia itu berfikir maka tidak akan ada
manusia yang mampu mengerti apa yang ada di dalam pikiran manusia lainnya.
Karena berfikir itu di dalam batin atau berdifat batiniyyah dan merupakan suatu
yang abstrak. Hasil dari pemikiran atau akal budi yang abstrak dan batiniyyah
itulah yang kita sebut sebagai ‘konsep’ atau ‘pengertian’.[2]
Untuk menyatakan suatu pengertian/konsep maka
manusia perlu menuangkapkannya dengan menggunakan tanda, isyarat atau dengan
kata-kata. Ini agar konsep yang ada di dalam alam pikirnya (batinnya) dapat
dimengerti atau difaham oleh orang lain. Aristoteles dalam
"The classical theory of concepts" menyatakan bahwa konsep merupakan
penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran
manusia. Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran mental, yang
dinyatakan dalam suatu kata atau simbol.[3]
Bahasa yang tersusun dari kata-kata, dan
kata-kata sangatlah penting dalam pengungkapan konsep/pengertian. Kesalahan
dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata akan menimbulkan kesalahpahaman atau
yang lainnya. Pada dasarnya kata-kata adalah tanda untuk mengungkapkan
konsep/pengertian akan tetapi sifatnya terbatas, maka bahasa pun bersifat
terbatas.
Setelah kita tahu bahwasanny konsep/pengertian
adalah sebuah hasil dari akal budi, dan bahasa adalah alat yang tepat untuk
mengungkapkannya, maka berbicara lebih mendalam mengenai ‘konsep’ atau
‘pengertian’ akan menjadi sangat perlu. Namun dalam pembahasan ini yang menjadi
pokok adalah berbicara mengenai konsep ditinjau dari berbagai segi. Semoga
penjelasan dalam makalah ini memberikan manfaat pengetahuan.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Pengertian ditinjau
dari aspek materi.
B. Pengertian ditinjau
dari aspek kuantitas.
C. Pengertian ditinjau
dari aspek kesempurnaan.
D. Pengertian ditinjau
dari aspek perimbangan makna.
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian ditinjau
dari aspek materi.
Dari aspek materi maka pengertian/konsep akan dibagi
menjadi empat, yaitu :
i. Kolektif
Suatu pengertian yang apabila
mengikat sejumlah barang, yang mempunyai kesamaan fungsi yang membentuk satu
kesatuan. Seperti Tim, Panitia, Kesebelasan dan lain sebagainya. Seperti
pengertian “Bangsa Indonesia Bodoh” maka tidak setiap orang Indonesia itu
bodoh.
ii. Distribusi
Distribusi berarti
tersebar. Maksudnya pengertian ini menunjukan sesuatu yang lebi spesifik di
dalamnya. Seperti buku ini, tas ini,
kuda ini dan lain sebagainya.
iii. Kongkrit
Adalah hal-hal dengan sesuatu itu sendiri dan
syarat dengan segala sifat-sifatnya yang tertentu pula. Dapat diartikan pula
apabila pengertian itu menunjuk pada suatu benda, orang atau siapa/apa saja
yang mempunyai eksistensi.Seperti buku, kursi, meja, kerbau, dan lain
sebagainya.
iv.Abstrak
Yaitu merupakan pengertian yang apabila menunjuk
pada suatu sifat, keadaan, kegiatan yang dilepas dari objek tertentu. Seperti
kesehatan, kebodohan, kecerdasan, baik, buruk dan lain sebagainya.
Namun
ternyata terdapat beberapa kata yang dapat bermakna konkret di suatu saat dan
bermakna abstrak pada saat lainnya. Hal ini terjadi dikarenakan menurut
penggunaannya.
‘Orang
Jawa’ jika dimaksud adalah sekelompok manusia yang tinggal di Jawa Timur, Jawa
Tengah dan Jawa Barat, ia bermakna konkret. Tetapi bila yang dimaksud adalah cara dan sikap mereka
hidup maka menjadi abstrak.
‘Kebaikan’, ‘kekayaan’,
‘kesempurnaan’ adalah abstrak. Tetapi bila kata itu ditekankan pada obyek
tertentu, ia menjadi konkret. Berikut adalah kata-kata yang bermakna abstrak:
*Kejujuran adalah hal yang paling mulia.
*Kekayaan dapat menjadikan orang lupa pada Tuhan dan sesamanya.
Sedangkan pada pernyataan-pernyataan
berikut, kata-kata di atas menjadi konkret:
*Kejujuran pembantu itu tidak mungkin dilupakan oleh majikannya.
*Kekayaan Utsman
bin Affan bernilai milyaran dolar.[4]
B. Pengertian ditinjau
dari aspek kuantitas.
Ditinjau dari segi kuantitasnya,
pengertian/konsep terbagi menjadi tiga, yaitu :
i. Universal
Dalam hal ini pengertian dapat dikatakan
terhadap semua dan tiap-tiap dalam macamnya, juga disebut juga pengertian umum.
Maksudnya pengertian ini menghiraukan segala aspek dalam macam itu atau
sifatnya kemudian menunjuk pada ke-umumannya.[5]
Seperti pengertian “manusia”, maka menghiraukan
segala sesuatu yang menjadi ciri, macam atau sifat dari sifat manusia. Tidak
menyebut manusia yang mana, hanya memberikan suatu pengertian dengan kesamaan
yang kemudian disebut sebagai “manusia”.
Atau dalam contoh lain, seperti pengertian
“segitiga”, hanya menyebut segitiga secara umum. Tidak menyebut segitiga yang
mana, tumpul, lanci, atau siku. Namun dalam pengertian “segitiga” adalah
segitiga secara umum.
ii. Partikuler
Apabila dikatakan bahwa “Kalimat itu terdiri
dari subjek dan predikat.” Memang dalam pengertian itu adalah umum, akan tetapi
keumumannya tidaklah mutlak. Kita tahu bahwa dalam kaidah Bahasa Indonesia
terdapat kalimat yang tidak mempunyai subjek. Pengertian yang beginilah yang
disebut dengan pengertian partikular.[6]
Pembagian pengertian ini hampir sama dengan
pengertian ‘universal’. Namun yang menjadi perbedaan adalah dimana pengertiian
partikular memiliki keumuman yang tak mutlak, maksudnya ada beberapa dari
keumumanya yang dinafikan.
Dalam contoh lain, “Orang Jawa dapat berbahasa
Jawa”. Pengertian “orang jawa” secara umum mungkin orang yang tinggal di Jawa
atau keturunan orang Jawa. Tetapi pengertian “Orang Jawa” disini tidak umum
secara mutlak. Karena dalam pengertian “Orang Jawa dapat berbahasa Jawa” ada
beberapa orang jawa yang tidak bisa berbahasa jawa. Dinafikan dalam
keumumannya.
iii.Singular
Dalam pembagian
ini, pengertian ini tidak mempunyai wilayah (tanpa wilayah). Karena isi
pengertian sangatlah banyak (isi pengertian semakin luas) jadi hanya menunjuk
kepada individu saja.[7]
Seperti contoh,
Lazim. Kata “Lazim” sudah tidak mempunyai bawahan lagi (wilayahnya sempit).
Karena isi pengertiannya luas. Apabila dapat diurutkan bisa seperti penjelasan
ini. Manusia -> Laki-Laki -> Mahasiswa -> di Ushuluddin -> Jur TH
-> Kelas B -> yang bernama “Lazim”.
C. Pengertian ditinjau
dari aspek kesempurnaan.
Dalam aspek kesempurnaan makna maka pengertian terbagi
menjadi tiga, yaitu :
i.
Makna Penuh
Pengertian ini juga disebut makna laras (مطابقة) yaitu
apabila makna selaras dengan makna penuhnya. Seperti kata rumah dalam kalimat :
Saya membeli rumah. Maka makna rumah itu adalah rumah itu sendiri, bukan
bagiannya (namun keseluruhan dari berbagai bagian itu), atau makna yang
lainnya.Maka saya membeli rumah bermakna saya membeli rumah beserta seluruh
bagiannya termasuk pintu, jendela, atap, lantai dan lain-lain.
ii.
Makna Kandungan
Pengertian ini menunjukan bahwa makna yang dimaksud hanyalah sebagian
dari kata pengertian yang dimaksudkan. Seperti dicontohkan di dalam kalimat :
Saya mengetuk rumahnya. Maka makna rumah dari kalimat ini adalah bagian dari
rumah itu, yang dimaksudkan adalah pintu.
iii.
Makna Lazim
Yang dimaksudkan dari makna lazim adalah
pengertian yang maknanya menyebut makna lain atau keluar dari makna itu, akan
tetapi masih terikat dengan kandungan kata itu. Maknanya menjadi bukan sesuatu
itu sendiri dan bukan dari bagian dari pengertian itu. Seperti kata rumah dalam
kalimat : Saya mencangkul rumput di rumah saya. Pada kalimat ini yang
dimaksudkan dalam pengertian rumah adalah pekarangan rumah. Bukan rumahnya dan
bukan pula bagian dari rumah itu.[8]
D. Pengertian ditinjau
dari aspek perimbangan makna (تقابل الألفاظ).
Yang dimaksud dengan تقابل الألفاظ (perimbangan
makna) ada juga yang mengartikan dengan
bertolak belakang atau berlawanan adalah dua pengertian (kata) yang tidak
mungkin berkumpul dalam satu benda (maudlu’) dalam satu waktu. Seperti hadir-ghoib, hidup-mati,
anak-bapak, hitam-putih, dan lain-lain.
تقابل الألفاظ terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu :
i.
نقيضين (Kontraris)
Adalah dua kata yang tidak bisa kumpul pada satu benda dalam satu waktu
akan tetapi juga tidak bisa keduanya tidak ada. Seperti kata hidup-mati,
Khaliq-makhluk, sehat-sakit dan lain-lain.
Ini tidak akan berkumpul keduanya dan tidak bisa tidak ada keduanya.
Tidak bisa menjadi hidup dan mati, atau tidak hidup dan tidak mati.
ii.
ضدين (Kontradiktoris)
Adalah dua kata yang tidak bisa kumpul pada satu benda dalam satu
waktu,namun bisa tidak ada keduanya. Seperti kata htiam-putih, duduk-berdiri
dan lain sebagainya. Tidak bisa benda itu hitam tetapi juga putih, tidak
mungkin duduk dan berdiri. Akan tetapi bisa jadi tidak putih dan tidak hitam,
tetapi merah atau kuning. Bisa jadi tidak duduk dan tidak berdiri tetapi tidur
atau jongkok.
iii.
متضايفين (Relatif)
Adalah dua kata yang apabila disebut salah satunya maka yang satunya
akan terbawa dalam alam piker kita, karena keduanya saling tersandar. Seperti
bapak-ibu, suami-istri dan lain sebagainya. Bapak ada maka ibu aka nada begitu
sebaliknya. Ada suami maka aka nada istri dan begitu pula sebaliknya.[9]
IV. KESIMPULAN
Dari pemaparan makalah ini kita dapat simpulkan bahwasannya Pengertian
dibagi sesuai dengan aspek materi ada : Kolektif, Distribusi, Kongkret dan Abstrak.
Dari segi kuantitas terdapat universal, particular dan singular.
Sedangkan dari segi kesempurnaan terdapat makna penuh, makna kandungan
dan makna lazim.
Adapun dari segi perimbangan makna terbagi menjadi kontaris.
Kontradiktoris, dan relatif
V. PENUTUP
Demikian makalah ini kami paparkan sesuai dengan kemampuan pemahaman
penyusun. Semoga dapat memberikan manfaat pengetahuan bagi sebuah keilmuan,
khususnya ilmu mantiq. Adapun demikian, tentulah masih perlu adanya perbaikan.
Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca sangatlah diharapkan guna perbaikan
selanjutnya. Terimakasih.
Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon